KONFLIK DAN PERANG DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL (Studi Kasus Perang Korea Utara dan Korea Selatan)

March 27, 2010

KONFLIK DAN PERANG DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

(Studi Kasus Perang Korea Utara dan Korea Selatan)

  1. I. Pendahuluan

Apa yang sekilas muncul dalam benak kita semua ketika mendengar kata ‘perang’ ? yang pasti ada perasan ngeri ketika membayangkan ada senjata, ada target yang ingin dilawan, bahkan ada pertumpahan darah di dalamnya. Namun bagaimanapun juga, suka ataupun tidak suka, perang dan konflik tidak bisa dihindari. Ada yang berpendapat bahwa berusaha menghentikan perang artinya sama saja dengan mencoba melanggar kuasa Tuhan, karena yang dapat menciptakan kedamaian seutuhnya di muka bumi ini hanyalah Tuhan.

Mengapa perang dikatakan telah menjadi bagian dari kehidupan dan sejarah kehidupan manusia? Karena manusia sudah mengenal pertikaian sejak dulu. Sejak zaman purba, manusia sudah mengenal pola hidup berkelompok, dan di dalam kehidupan tersebut selalu ada masalah yang terjadi, ketika apa yang diinginkan dan diharapkan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Hingga kemudian muncullah perbedaan pendapat antara pihak-pihak tertentu, lalu muncul perselisihan, kemudian pertikaian (ketika langkah-langkah untuk mencapai perdamaian tidak dapat ditemukan), hingga akhirnya muncullah konflik.

Konflik. Pengertiannya secara bahasa atau secara harfiah adalah ‘configere’ yang dalam bahasa latin berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah stau pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Artinya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Ada banyak sekali definisi atau pengertian ‘perang’.

John A. McHugh, O.P. dan Charles J. Callan berpendapat seperti: War defined as a state of konflik between two or more sovereign nations carried on by force of arms.” Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia maka kalimat tersebut berarti “Perang didefinisikan sebagai keadaan konflik antara dua atau lebih negara berdaulat yang dijalankan oleh kekuatan senjata.” Dalam hal ini, sudah jelas bahwa McHugh dan Callan mendefiniskan arti perang dengan mengambil konsep Hubungan Internasional, sehingga definisi di atas dapat diterima dengan jelas karena dalam Hubungan Internasional, sejatinya, perang haruslah menyangkut ‘batas wilayah’ dan Negara-negara yang terlibat di dalamnya haruslah Negara-negara yang berdaulat dan berkuasa.

Von Clausewitz, seorang jenderal Prussia (Jerman) pada permulaan abad ke 19 pernah mengutarakan pendapatnya mengenai perang, bahwa perang sebagai fenomena kehidupan umat manusia biasa dapat diartikan sebagai tindakan penggunaan kekerasan untuk memaksa pihak lain tunduk kepada kehendak kita. Dari pernyataan Clausewitz, dapat kita tarik kesimpulan sederhana bahwa perang dapat digunakan untuk memperoleh dan juga menguasai segala sesuatu yang kita inginkan, dan juga menguasai dan mengontrol pihak-pihak tertentu yang sebelumnya tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan, menjadi takluk dan tunduk pada kehendak kita. Artinya, pihak yang ingin menguasai lawannya haruslah memiliki daya dan kekuatan yang lebih sehingga ia dapat mendominasi lawannya. Begitupun halnya dengan perang, daya dan kekuatan menjadi faktor utama yang dapat menentukan menang kalahnya suatu pihak dalam sebuah peperangan , dan untuk mendapatkan atau memiliki daya dan kekuatan tersebut, baik yang secara tangible (yang terlihat) maupun yang bersifat intangible (yang tak terlihat), pihak-pihak yang berperang bisa memperolehnya melalui kepemilikan senjata militer, wilayah dan teritori yang luas, sumber daya alam yang melimpah, atau bahkan dukungan dari pihak-pihak luar negeri.

Dari definisi-definisi mengenai konflik dan perang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap konflik atau perang memiliki aktor alias pelaku yang melakukan aktivitas perang (setidaknya ada dua pihak yang berkonflik), ada motif yang menyebabkan konflik atau perang tersebut, ada strategi dalam memenangkan perang itu, dan ada tujuan yang ingin dicapai dari peperangan tersebut.

Perang dan konflik, apabila dikaji dalam Hubungan Internasional, maka permasalahannya akan semakin kompleks. Seperti yang kita ketahui bahwa Hubungan Internasional dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan kajiannya, yaitu Hubungan Internasional sebagai fenomena dan Hubungan Internasional sebagai disiplin ilmu. Hubungan Internasional sebagai fenomena merupakan interkasi antar berbagai aktor (Negara −state− maupun non Negara −non state−) yang melintasi batas Negara. Artinya suatu fenomena tidak dapat dikatakan sebagai kajian Hubungan Internasional apabila tidak meliputi lintas batas wilayah. Contohnya saja, perang antara suku A dengan suku B dalam Negara C tidak dapat dikategorikan sebagai kajian Hubungan Internasional karena interaksi yang terjadi bukanlah interaksi yang melewati batas wilayah. Sebaliknya, fenomena sekecil apapun, yang apabila telah melintasi batas wilayah, sudah dapat dikategorikan sebagai fenomena Hubungan Internasional. Contohnya, pedagang A memasarkan barang produksinya di Negara B dan berinteraksi  dengan orang-orang dari Negara B, maka fenomena ini dapat disimpulkan sebagai suatu fenomena Hubungan Internasional.

Hubungan Internasional sebagai disiplin ilmu adalah kajian akademis yang berusaha untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksikan berbagai fenomena internasional dengan menerapkan paradigma, teori, dan konsep Hubungan Internasional, dengan fokus antara lain konflik dan kerjasama.

Untuk mengetahui bagaimana konflik dan perang dapat dikatakan sebagai kajian dari Hubungan Internasional, maka kita dapat melihatnya dari beberapa faktor, antara lain; batas wilayah, dan aktornya. Apabila kedua aktor yang memegang peran penting dalam konflik dan perang tersebut berasal dari dua wilayah yang berbeda, dan melintasi batas wilayah Negara, maka konflik tersebut dapatlah kita katakan sebagai fenomena atau kajian Hubungan Internasional. Selain itu kita juga dapat mencari tahu kepentingan apa yang ada di balik tersebut. Karena kepentingan nasional merupakan atribut utama setiap Negara dan menjadi motif utama dalam setiap interaksi nasional, dan perilaku setiap Negara dapat selalu dijelaskan dengan asumsi kepentingan nasional. Sebagai titik awal mencapai kepentingan nasional, setiap Negara harus memahami posisi relatif kekuatan nasional (power) agar dapat menentukan level pengaruh, batas-batas strategi, dan sebagainya.

Berbicara mengenai kepentingan nasional artinya kita berbicara mengenai sesuatu yang bersifat ambigu atau memiliki makna ganda, yaitu bermakna objektif dan subjektif. Secara objektif, kepentingan nasional berarti atribut Negara yang secara langsung terdapat pada suatu Negara, dan secara subjektif, kepentingan nasional berarti hasil atau output dari proses politik, domestik, maupun internasional. Namun Coloumbus dan Wolfe berpendapat bahwa kepentingan nasional dipahami sebagai sintesis dari pendekatan-pendekatan subjektif dan objektif dalam situasi yang besar dan kompleks seperti Negara, keputusan dibuat oleh segelintir elite yang memiliki legitimasi. “Para penganut Realis menyamakan kepentingan nasional sebagai upaya Negara untuk mengejar power, dimana power adalah segala sesautu yang dapat mengembangkan dan memelihara kontrol suatu Negara terhadap Negara lain. Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat melalui teknik pemaksaan atau kerjasama. Karena itu kekuasaan dan kepentingan nasional dianggap sebagai sarana dan sekaligus tujuan dari tindakan suatu Negara untuk bertahan hidup (survival) dalam politik internasional.” (Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, 2005: 35)

Lalu, ketika kita berbicara mengenai konflik atau perang, pasti tidak luput dari pertanyaan ‘Apa saja yang memungkinkan terjadinya perang atau konflik?’. Sebenarnya, konflik itu sendiri dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah perbedaan-perbedaan ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat-istiadat, keyakinan, ideologi, dan sebagainya. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya, setiap orang meiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya,. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak harus selalu sejalan dengan kelompoknya. Konflik pada dasarnya dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda, perbedaan-perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Namun akan berbeda halnya apabila kita sudah memasuki pembicaraan konflik atau perang dalam ranah Hubungan Internasional. Penyebab konflik dalam Hubungan Internasional bisa saja berupa adanya perbedaan ras dan etnis, seperti yang terjadi pada konflik Bosnia-Kroasia, konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan. Alasan lain yaitu karena adanya keinginan dari suatu Negara untuk melakukan ekspansi ke Negara lain, adanya keinginan untuk saling menghancurkan, karena ingin berkuasa dan ingin melakukan perebutan kekuasaan, dan karena tidak ada pihak yang mau mengalah. Seorang ilmuwan Hubungan Internasional pernah berasumsi bahwa Negara adalah organisasi yang hidup. Negara dikatakan hidup karena berinteraksi, dan membutuhkan ruang, ekspansi, dan adaptasi. Ruang, dalam hal ini berarti wilayah, dan untuk mendapatkan wilayah yang lebih luas, sebuah Negara bisa melakukan ekspansi, salah satunya dengan cara berperang. Hanya saja, banyak argumen-argumen mengenai ekspansi yang dilakukan oleh suatu Negara ke Negara lain. Contohnya saja mengenai serangan Amerika Serikat ke Afghanistan, kaum realis melihat fenomena ini sebagai cara Amerika untuk memperlebar kekuasaan militernya ke Afghanistan. Berbeda halnya dengan orang-orang yang memandang fenomena ini dari segi ekonomi-politik (ekopol), yang menganggap bahwa serangan Amerika Serikat adalah untuk menguasai sumber-sumber minyak di Afghanistan dan juga ingin membuat pabrik ganja terbesar di dunia.

Mengkaji masalah perang dan konflik bukanlah hal yang sederhana, diperlukan tahap-tahap atau langkah-langkah yang sistematis dalam melihatnya, bagaimana perang itu dimulai, darimana asalnya, apa latar belakangnya, bagaimana perkembangannya, hingga puncak dari perang itu sendiri. Hal ini disebut dengan eskalasi, atau tahap-tahap eskalasi konflik menuju perang.

  • Yang pertama yaitu karena adanya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat memang sering kali memancing orang-orang untuk saling menyalahkan. Pihak yang ditentang pendapatnya merasa tidak setuju, tidak sependapat, dan tidak sejalan dengan pihak yang menentang. Sebaliknya, pihak yang menentang pun merasa bahwa pendapat dan argumennyalah yang lebih benar dan masuk akal daripada pendapat pihak lawan. Hal ini memang terlihat sederhana dan tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi siapa sangka bahwa hal sekecil inilah yang bisa menyebabkan konflik-konflik dan perang-perang besar nantinya.
  • Yang kedua yaitu tahap Perselisihan. Tahap ini adalah tahap dimana kedua belah pihak sudah mulai saling menyerang pribadi. Perselisihan bisa muncul apabila hak suatu pihak tidak terpenuhi, akibat adanya perbedaan penafsiran atau pelaksanaan atas sesuatu yang sebelumnya telah disepakati bersama atau perjanjian bersama. Cara paling sederhana dalam menyelesaikan perselisihan adalah dengan bermusyawarah dan membicarakan segala sesuatu dengan cara damai agar perselisihan tidak semakin merebak. Dalam Hubungan Internasional, hal ini disebut dengan istilah ‘soft diplomacy’.
  • Namun ketika cara damai atau soft diplomacy belum berhasil alias hampir gagal dilaksanakan, maka perselisishan akan semakin merambah pada tahap yang lebih kompleks yaitu Pertikaian. Pertikaian bukanlah suatu tahap yang sederhana, karena di tahap ini, kedua belah pihak yang bermasalah secara tidak langsung telah memutuskan untuk tetap berselisih, artinya, tidak akan ada kata damai, dan melangkah pada tahap selanjutnya.
  • Tahap selanjutnya adalah Konflik Terbatas.
  • Setelah konflik terbatas, maka tahap selanjutnya adalah Konflik Terbuka. Pada tahap konflik terbuka ini, kedua belah pihak sudah mulai saling ancam-mengancam dan siap untuk berperang. Bagi Negara yang berperang dengan menggunakan senjata nuklir, tahap ini bisa meliputi tahap uji coba senjata nuklir atau rudal, namun tidak jarang suatu Negara menguji coba senjatanya di kawasan Negara lain, seperti yang dilakukan Korea Utara pada 31 Agustus 1998, dimana Korea Utara melakukan uji coba rudal yang melintasi Jepang dan jatuh di lautan Pasifik.
  • Setelah konflik terbatas, tahap selanjutnya adalah Perang.
  • Dan yang terakhir, yaitu yang menjadi puncaknya, adalah Perang Total, dimana kedua belah pihak yang berperang mengalihkan semua sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia, untuk bisa memenangkan perang. Lalu masing-masing meminta dukungan dan bantuan (baik berupa senjata maupun tentara perang) dari Negara-negara lain. Dan di tahap ini, semua yang dikhawatirkan akan terjadi. Ada kerusakan di muka bumi. Ada pertumpahan darah. Manusia saling bunuh-membunuh. Perang Total.

 

 

II.        Studi Kasus Perang Korea Utara dengan Korea Selatan

(Dendam Lama yang Tak Kunjung Usai)

Setelah Perang Dunia Kedua, tercipta blok yang memiliki perbedaan ideologi. Blok-blok ini tercipta oleh Negara-negara yang memenangkan Perang Dunia Kedua, yaita Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Rusia. Amerika dan sekutunya membentuk blok barat yang beraliran kapitalis dan liberal. Rusia membentuk blok timur, beraliran komunis dan sosialis, kemudian membentuk USSR ( Uni Soviet) yang pada akhirnya bergabung kekuatan dengan RRC ( Cina) dan Negara-negara Eropa Timur.

Perang Korea yang terjadi pada tahun 1950, disebabkan oleh propaganda dan pergerakan politik RRC yang ingin mengkomuniskan Negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Namun pergerakan RRC dan sekutunya ternyata diketahui oleh Amerika dan sekutunya. Amerika yang mempunyai pangkalan militer di Jepang dan Filipina berupaya agar komunisme tidak bisa ekspansi ke Asia Timur. Tetapi upaya itu sudah terlambat, karena propaganda komunis yang dilakukan RRC sudah masuk ke daratan Korea dari jalur utara, dan mereka telah berhasil mempengaruhi dan menguasai para pejabat di daerah Korea Utara dan memproklamirkan tentara Korea Utara.

Sebelum masuk ke Jepang dan Taiwan, Amerika dan sekutunya sudah berusaha menangkal pergerakan pasukan komunis Korea Utara dengan mempersenjatai pasukan Korea yang berada di daerah selatan. Akhirnya terjadilah perang saudara, karena Korea Utara bergerak ke Korea Selatan tanpa peringatan, dan mereka langsung menyerbu ke wilayah Korea Selatan. Akhirnya PBB menyerukan  pada Amerika untuk turun tangan membela Korea Selatan. Terjadilah perang saudara, dan sampai saat ini masing-masing daerah memproklamirkan pemisahan daerah dan masing-masing disetujui oleh Negara-negara berdaulat oleh dewan resolusi PBB, dan sampai sekarang, kedua belah pihak masih berperang dingin, padahal perang dingin yang sesungguhnya antara blok Timur dan blok Barat telah usai.

“The most realistic opinion will be that in the event that North Korea provokes aggression, both communist China and Soviet Union would support it whether they like it or not.” (Park Cung Hee, 1976: 222)

Berikut ini adalah kronologi singkat mengenai Perang Korea dari 1950 hingga tahun 2009.

15 Agustus 1945 – Jepang menyerah pada sekutu. Korea terbagi dua: Selatan (AS) dan Utara (Uni Soviet)

15 Agustus 1948 -  Korea Selatan (Republik Korea) menyatakan kemerdekannya.

9 September 1948 – Korea Utara (Republik Rakyat Demokratik Korea) secara resmi terbentuk.

25 Juni 1950 – Perang Korea pecah setelah Korea Utara menyerbu Korea Selatan.

18  Desember 1965 – Korea Selatan dengan Jepang memulihkan hubungan diplomatik dengan Korea Utara.

15  Agustus 1974 – Agen Korea Utara, Mun Segwang, berusaha membunuh presiden Korea Selatan, Park Chung-hee di Seoul. Chung-hee selamat namun istrinya tewas.

9 Oktober 1983 – Agen-agen Korea Utara menyerang rombongan menteri Korea Selatan di Yangoon, Myanmar, membunuh 18 pejabat dan 4 di antaranya adalah menteri.

7 Oktober 1988 -  Perdagangan antar Korea resmi diizinkan, disusul bergabungnya Korea Utara ke PBB bersama  dengan Korea Selatan, tanggal 17 September 1991.

8 Juli 1994 – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Il Sung, meninggal karena serangan jantung. Kekuasaan berpindah ke tangan putranya, Kim Jong-il.

9 Maret 1995 – Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat menandatangani pembentukan Organisasi Pengembangan Energi Semenanjung (KEDO).

31 Agustus 1998 – Korea Utara menguji coba rudal yang melintasi Jepang dan jatuh di lautan Pasifik.

10 April 2000 – Korea Utara dan Korea Selatan, mengumumkan bahwa presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung akan pergi ke Pyongyang guna menghadiri KTT bersama pemimpin Korea Utara Kim Jong-il.

22 Juni 2002 – Konflik perairan di Pantai Barat.

5 Juli 2006 – Korea Utara meluncurkan Daepodong II

9 Oktober 2006 – Korea Utara menuji coba nuklir.

2 Oktober 2007 – Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun menemui Kim Jong-il.

25 Mei 2009 – Korea Utara menguji coba nuklir bawah tanah, hubungan dengan Korea Selatan memanas.

 

Kronologi di atas merupakan sebuah cerita singkat tentang panjangnya konflik yang terjadi antara kedua Negara tersebut. Korea Utara dan Korea Selatan yang awalnya adalah ‘saudara’, kemudian saling membenci karena provokasi dari pihak luar, lalu saling bertikai, hingga akhirnya terjadi perang.

Konflik ini adalah konflik yang amat rumit, mengingat hingga sekarang kedua belah pihak hingga sekarang belum memiliki tanda-tanda damai dan kembali ‘hidup bersama’. Sebenarnya perang total telah berakhir sejak 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji untuk saling menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namujn secara resmi, perang ini berlum berakhir sampai saat ini.

Sepertinya akan sangat sulit untuk mengembalikan kedua Negara ini pada kondisi sebelum konflik, mengingat konflik ini sudaha lama terjadi. Namun jika kita berpikir secara idealis, maka kita pasti akan bisa menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan, serumit apapun permasalahan itu, pasti ada jalan keluarnya. Dalam Hubungan Internasional, kita mempelajari mengenai teori konflik, dan dalam teori konflik ada yang disebut metode konflik, yaitu cara-cara mengembalikan kondisi kedua belah pihak yang berkonflik ke kondisi sebelum terjadinya perang (kondisi default), ada dua cara:

  • Yang pertama; Zero Sum Games; yang secara kasar berarti ‘menghancurkan kedua belah pihak sampai habis, sehingga tidak ada lagi yang berperang.’
  • Yang kedua; Positive Games; yang secara kasar berarti ‘memenangkan keduanya dan memenuhi semua keinginan keduanya.’

Dan karena AKTOR UTAMA dalam perang Korea ini adalah NEGARA, maka secara sederhana, untuk menghentikan perang ini, adalah dengan cara menghancurkan kedua Negara tersebut atau memenuhi semua keinginannya.

“The questions thus comes up to that what is the solution of this continued dilemma. Since both North and South have an ardent desire for ‘peaceful’ unification, there comes the vital question of the modus operandi of ‘peaceful’ approach. Since war has been universally decried as the means for lasting solution, the only option is to work out peace proposal jointly. Thus a workable formula, at least to begin with, may be a meeting of the two Presidents, deliberating with open minds. What is important, in this context, is that if the process is delayed with the passage of time and appearance of a new generation, which has never experienced life in a united Korea, the desire for unification may not be so intense as it is with the president leadership. The memories of the Korean War which are alive with the present generation, provoking enthusiasm for national unification, may become more lessons of history for the upcoming next generation.” (Srivastava, M.P, 1986: 112)

Sebuah perang biasanya bisa dihentikan untuk beberapa waktu lamanya tetapi sewaktu-waktu dapat terjadi lagi dengan format yang berbeda dan aktor yang berbeda pula. Perang akan memproduksi aktor perang berikutnya dengan watak dan metode yang baru. Masyarakat yang hidup dalam arena perang berpotensi membuat perang di lain kesempatan. Apalagi anak-anak yang beranjak dewasa dan melihat parade perang akan cepat belajar dan ketika dewasa mereka ingin terlibat dalam perang. Khusus untuk anak-anak yang bapaknya menjadi korban cukup berpotensi menjadi generasi militan dan membuka medan perang baru yang lebih hebat dan lama.

Sehingga kenapa timbul pemikiran manusia untuk tidak memilih jalur perang ketika menyelesaikan sebuah persengketaan. Hanya orang-orang yang berpikiran ke belakang yang menyukai perang. Mereka hanya tahu: kita harus menang dan berkuasa, tetapi imbas dari perang tidak diperhitungkan. Padahal inilah yang sebenarnya menjadi perhatian kita. Bahwa perang sesuatu yang tidak memberi manfaat kecuali kehancuran. Tidak pernah kita menggapai perdamaian abadi ketika perang dipaksakan. Kecuali perdamaian sesaat yang sewaktu-waktu meletup dan menjadi gejolak yang lebih hebat. Dan kita harus membayar mahal atasnya: runtuh dan terkuburnya nilai-nilai kemanusiaan.

Walaupun perang dirancang dengan strategi modern, tetap memberikan efek samping terhadap anak-anak. Anak-anak akan menanggung derita dan duka dari perang. Mereka menderita. Sehingga kenapa orang bijak tidak menginginkan solusi penyelesaian masalah lewat perang. Karena harga yang harus dibayar sangatlah mahal bahkan lebih mahal dari biaya perang itu sendiri.

Tetapi pada akhirnya, percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka, perang tidak pernah bisa kita hindari.

 

“YOU MAY NOT BE INTERESTED IN WAR,

BUT WAR IS INTERESTED IN YOU.”

−Leon Trotsky−

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: